Senin, 21 Maret 2011

Saya Diminta untuk Menulis

Saya sering sekali diminta orang lain untuk menulis. Mulai dari menuliskan nama di absen, notulensi rapat, press release, sampai artikel atau opini. Rasanya ingin teriak dan bilang "TIDAAAAAAAAAAAAK" kepada mereka. Kenapa ya, koq sepertinya identik sekali yang namanya orgnisatoris itu sama dunia tulis menulis. Jika sekedar menulis notulensi sih OK, karena ngga pakai mikir. Tapi jika sudah disuruh untuk menulis yang pakai otak (ngga cuma pake tangan) itu rasanya koq seperti disuruh bolak-balik Jakarta-Bogor jalan kaki. So hard...

Sampai saat ini saya masih memegang prinsip bahwa sebuah karya tulisan itu lahir dari aliran perasaansi penulis ke atas kertas. So, jika ingin menulis ya harus memulai dengan menghadirkan hati dan perasaannya. Jika menulisnya saja karena dipaksa, maka perasaan apa yang akan hadir dan kemudian mengalir, kecuali perasaan terpaksa. Hmmm, mungkin ini tidak sepenuhnya benar, karena buktinya banyak teman saya yang malah semakin produktif ketika dipaksa menulis. Wartawan saja makin banyak tulisannya jika pimrednya sudah menjatuhkan vonis menulis untuknya.

Saya memang organisatoris sejak SD dulu, sepertinya sepi dan hambar jika tidak ikut satu organisasi. Tapi mengapa kemudian kemampuan menulis menjadi sebuah syarat tambahan yang harus dimiliki oleh seorang organisatoris?

Walaupun terlihat sepertinya saya tidak suka menulis, jika dihitung tulisan saya sudah cukup banyak. Saya senang membuat kata mutiara, atau puisi, atau penggalan tulisan yang terlintas di pikiran saya dan saya rasa akan sangat sia-sia jika tidak dituliskan. Saya senang menulis, tapi tulisan yang memang saya butuhkan untuk memberi tahu orang lain mengenai apa ide yang ada di pikiran saya, atau apa kegelisahan yang ada di benak saya. Novel yang saya tulis tidak pernah selesai, karena ketika sampai ditengah cerita, saya akan berpikir bahwa ceritanya cukup sampai di sini saja. Saya bisa berbicara lebih banyak lewat tulisan, apalagi jika itu mengenai ganjalan yang ada di hati saya. Saya merasa kurang nyaman jika harus menyampaikan unek-unek lewat lisan secara langsung.

Mungkin saya tipe orang yang hanya bisa menulis jika mood untuk menulisnya muncul, atau perasaannya mengenai sebuah topik begitu kuat.
Tapi saya jadi berpikir, bagaimana jadinya jika mood menulis saya tidak pernah muncul? Bagaimana dengan nasib skirpsi saya???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar