
"Kemiskinan" merupakan sebuah kosa kata yang telah melekat di telinga serta pikiran warga Indonesia, termasuk warga Bogor. Kemiskinan identik dengan keadaan serba tidak menyenangkan bagi manusia, karena hampir semua yang dianggap layak tidak dapat diakses oleh mereka secara optimal, yaitu kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan. Rantai teruntai dengan kuat yaitu antara kemiskinan, buruknya kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan dan kehidupan yang jauh dari sejahtera. Diperlukan sebuah alat yang bisa memutuskan rantai ini jika tidak ingin rantai ini nantinya kemudian semakin panjang dan mengikat kuat leher rakyat.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas data-data ataupun fakta-fakta statistik lainnya mengenai kemiskinan di Bogor. Saya lebih tertarik melihat kemiskinan dari sisi dampaknya kepada psikologis masyarakat Bogor itu sendiri. Penyebab kemiskinan sendiri ada beberapa, yaitu kepadatan penduduk yang terus meningkat yang akhirnya akan meningkatkan persaingan dalam mencari lapangan kerja. Lapangan kerja yang memang sedikit di wilayah Bogor ini memperburuk keadaan. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bogor mencapai 24,68% yaitu 1.105.156 jiwa sesuai dengan data BPS tahun 2008. Angka ini diperoleh dari pengelompokan warga miskin sesuai dengan standar yang ditentukan oleh BPS, yaitu mencakup 14 parameter utama. Parameter-parameter tersebut antara lain ; luas lantai bangunan tempat tinggal, jenis lantai bangunan tempat tinggal, jenis dinding bangunan tempat tinggal, sumber air minum, penggunaan fasilitas buang air besar, jenis bahan bakar untuk masak sehari-hari, sumber penerangan rumah tangga, kepemilikan aset minimal senilai Rp 500.000, frekuensi makan dalam sehari, pembelian pakaian baru dalam setahun, pembelian daging/ayam/susu dalam seminggu, kemampuan berobat ke puskesmas atau poliklinik, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga, dan bidang pekerjaan utama kepala rumah tangga. Menurut BPS, suatu rumah tangga dapat dikatakan miskin jika memenuhi minimal sembilan dari 14 indikator yang ditetapkan. Kenyataan ini tentu sangat mengiris nurani kita, bayangkan saja bagaimana kondisi sebuah keluarga yang memenuhi 9 indikator kemiskinan tersebut.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas data-data ataupun fakta-fakta statistik lainnya mengenai kemiskinan di Bogor. Saya lebih tertarik melihat kemiskinan dari sisi dampaknya kepada psikologis masyarakat Bogor itu sendiri. Penyebab kemiskinan sendiri ada beberapa, yaitu kepadatan penduduk yang terus meningkat yang akhirnya akan meningkatkan persaingan dalam mencari lapangan kerja. Lapangan kerja yang memang sedikit di wilayah Bogor ini memperburuk keadaan. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bogor mencapai 24,68% yaitu 1.105.156 jiwa sesuai dengan data BPS tahun 2008. Angka ini diperoleh dari pengelompokan warga miskin sesuai dengan standar yang ditentukan oleh BPS, yaitu mencakup 14 parameter utama. Parameter-parameter tersebut antara lain ; luas lantai bangunan tempat tinggal, jenis lantai bangunan tempat tinggal, jenis dinding bangunan tempat tinggal, sumber air minum, penggunaan fasilitas buang air besar, jenis bahan bakar untuk masak sehari-hari, sumber penerangan rumah tangga, kepemilikan aset minimal senilai Rp 500.000, frekuensi makan dalam sehari, pembelian pakaian baru dalam setahun, pembelian daging/ayam/susu dalam seminggu, kemampuan berobat ke puskesmas atau poliklinik, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga, dan bidang pekerjaan utama kepala rumah tangga. Menurut BPS, suatu rumah tangga dapat dikatakan miskin jika memenuhi minimal sembilan dari 14 indikator yang ditetapkan. Kenyataan ini tentu sangat mengiris nurani kita, bayangkan saja bagaimana kondisi sebuah keluarga yang memenuhi 9 indikator kemiskinan tersebut.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah pendapatan yang menjamin kebutuhan dasar, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara mendasar, pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya (Sutyastie dan Prijono 2002).
Kemiskinan ini dirasakan lebih berat dan lebih meyulitkan bagi warga yang memang mengalaminya. Dampak dari kemiskinan sendiri begitu mengkhawatirkan, baik bagi individu, masyarakat serta negara. Dampak yang pertama adalah dampak masalah kependudukan, yaitu tidak meratanya kesejahteraan di suatu wilayah yang akhirnya akan menghambat proses pemenuhan sarana dan prasarana pemenuh kebutuhan. Terbatasnya lapangan pekerjaan pun ternyata bukan hanya penyebab dari kemiskinan, tapi juga dampak dari adanya kemiskinan. Maka dapat dilihat bahwa titik putus antara masalah kemiskinan dan pengangguran itu sangat sulit ditemukan, tapi bukan berarti tidak ada kan?
Dampak yang kedua adalah dalam hal masalah ekonomi. Jika masyarakat di suatu wilayah termasuk ke dalam kategori miskin, maka mereka akan sibuk mencari atau berupaya untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Mereka tidak bisa secara optimal ikut dalam pembangunan daerah. Kebutuhan sehari-harinya saja tidak dapat dipenuhi secara optimal, bahkan terkadang dibawah standar kelayakan, misalnya akses kesehatan dan pendidikan serta asupan gizi harian. Rendahnya tingkat konsumsi merupakan salah satu indikatornya.
Dampak ketiga dari kemiskinan adalah dampak masalah pendidikan. Kemiskinan dekat dengan kebodohan dan keterbelakangan pengetahuan. Statement itu sudah sangat sering diucapkan oleh banyak orang. Sebenarnya ini sebuah generalisasi dari keadaan. Warga miskin memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan yang berkualitas baik. Hal ini karena di negara kita, pendidikan masih menjadi barang mahal yang harus dibeli dengan uang. Padahal, untuk membeli makan dan kebutuhan harian pun sangat sulit bagi mereka. Hal ini akhirnya membuat mereka memilih untuk menerapkan prinsip 'asal bisa baca', atau bahkan 'asal bisa makan ngga perlu pinter'. Menurut saya, ini adalah dampak terparah. Karena pendidikan adalah dasar yang diperlukan untuk mengubah nasib mereka. Lewat pendidikanlah mereka bisa mengerti standar hidup yang layak serta hal-hal lain yang menjadi modal hidupnya. Kemajuan pola pikir dan kemauan berusaha didapatkan dari sebuah pendidikan, baik formal maupun informal. Pendidikan di Kota Bogor, masih terbilang baik, berbeda dengan di Kabupaten Bogor yang jumlah minat belajarnya saja masih kurang. Masyarakat cenderung menyekolahkan anak-anaknya agar bisa membaca dan menulis, agar tidak mudah ditipu nantinya. Tapi akses terhadap pendidikan lanjutan, misalnya saja kejuruan yang nantinya bisa digunakan untuk keterampilan hidup masih kurang.
Dampak lainnya dari kemiskinan adalah rendahnya percaya diri. Kemiskinan biasanya menjadi warisan dari orang tua ke anaknya, terus begitu. Hal ini terjadi karena mental nrimo dan pasrah yang diyakini akan membuat hidup mereka tanpa masalah. Mereka enggan melangkahkan kakinya lebih lebar untuk keluar dari lingkaran kemiskinan ini. Mereka cenderung menjadikan kalimat "Ya..namanya juga orang miskin...bisa makan setiap hari saja sudah syukur..". Mental seperti ini pun diwariskan oleh orang tua mereka yang nantinya akan kembali diwariskan kepada generasi selanjutnya. Mereka berpendapat bahwa segala hal yang baik dan biasa dikonsumsi orang lain yang lebih mampu, tentu tidak cocok bila berada di tangan mereka. Hal ini membuat keinginan untuk maju begitu rendah. Biasanya, kalau pun ada usaha yang mereka lakukan, semuanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan harian saja, yaitu makan dan pakaian. Apalgi budaya masyarakat Bogor (Sunda) yang biasanya menerima segalanya sesuai dengan takdir Tuhan, ini akan menjadi sebuah barrier yang sulit untuk ditembus baik dari pihak luar ataupun keinginannya sendiri.
Kemiskinan menjadi mimpi buruk bagi setiap orang. Mimpi buruk bagi warga miskin itu sendiri karena merasa serba tidak berdaya dan merasa selalu dipandang sebelah mata. Mimpi buruk bagi kalangan berada, karena orang miskin selalu saja hadir di tempat keramaian dan akhirnya mengganggu kenyamanan sosial. Contoh untuk hal ini adalah banyaknya pengemis dan anak jalanan. Kejahatan pun dekat dengan kemiskinan, karena tindakan pencurian atau perampokan, sering kali dilakukan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi karena keterbatasan ekonomi. Semua hal ini tentu akan merusak tatanan sosial yang ada, dan jika terus dibiarkan akan menjadi bom waktu yang siap meledak.
Kita tengok negara-negara miskin di Afrika sana, hidupnya tergantung pada uluran tangan negara lain, padahal sumber daya alam mereka pun tak kalah potensinya. Jangan sampai negara kita akhirnya dijadikan boneka oleh negara adi daya hanya karena ketidak mampuan kita mengelola negara demi menyejahterakan rakyat. Karena itu, marilah kita bersama-sama, kembali berurun rembug menyelesaikan masalah ini. Jika tak bisa dengan tindakan atau materi, setidaknya dengan pemikiran dan doa.
Selalu berharap untuk Bogor dan Indonesia yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar